Pseudo-Government: Pemberdayaan Kelompok Usaha Bersama Program Keluarga Harapan

Achmad Buchory
DOI: https://doi.org/10.31105/mipks.v42i1.2247
Abstract views: 27 | views : 5

Abstract

Kementerian Sosial selaku stakeholder utama menggulirkan program Desa Sejahtera Mandiri berbasiskan KUBE dalam upaya untuk memandirikan desa dalam mengatasi permasalahan kesejahteraan sosial. Program ini menyasar pada desa-desa yang memiliki jumlah PMKS yang tinggi akan tetapi memiliki PSKS yang bisa dioptimalkan kinerja pemberdayaanya. Pengguliran bantuan di Kecamatan Jaten tidak dilepaskan adanya pengaruh pseudo goverment yang mempengaruhi ke-optimalan pelaksanaan pemberdayaan Kube PKH untuk membentuk DSM. Fenomena menarik pada proses pelaksanaan ada perlawanan kolektif yang dilakukan oleh para stakeholder program di Kecamatan Jaten agar program berjalan sesuai dengan prosedur. Penelitian ini bermaksud mengkaji fenomena pseudo goverment yang terjadi pada pengguliran bantuan sosial Rumusan masalahnya adalah bagaimana pengaruh pseudo goverment dalam praktik pemberdayaan sosial ekonomi  pada program Kube bagi warga binaan PKH untuk membentuk Desa Sejahtera Mandiri?”. Tujuan peneltian ini adalah Mendiskripsikan dan menganalisis Praktik Pseudo Goverment pada pemberdayaan Kube PKH Pengembangan Desa Sejahtera Mandiri yang dilakukan oleh para elite penguasaan di Kecamatan Jaten. Penelitian ini meminjam teori sosiologi yang ditawarkan Bourdieu, yaitu arena (field), habitus, dan kapital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dengan menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, Focus Group Discussion (FGD), dan studi dokumen. Proses tersebut berjalan secara siklus interaktif. Hasil penelitian ini mengungkap bahwa pratik pseudo goverment pada program bantuan sosial kube pengembangan desa sejahtera mandiri ternyata berdampak negatif pada pelaksanaan program. Praktik ini juga telah memarginalkan peran pendamping dan juga memunculkan konflik sosial. Praktik ini juga memunculkan kreativitas strategi pemberdayaan untuk mempertahankan tujuan pelaksanaan program DSM

Keywords

pseudo government, desa sejahtera mandiri

Full Text:

PDF

References

BPS Kabupaten Karanganyar. (2016). “Kecamatan Jaten Dalam Angka 2016”. Karanganyar: Pemerintah Kabupaten Karanganyar.

Bourdieu, Pierre. (1977). Outline Of Theory of Practice. Cambridge: Polity Press

_____________. (1984). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (Translated by Richard Nice). United State Of America: Harvard College.

Bourdieu, Pierre (1977) Outline of a Theory of Practice, London: Cam-bridge University Press.

Bourdieu, Pierre. (1984) Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Terjemahan dari La Distinct-ion: Critique Sociale du Jugement (1979), Cambridge: Harvard Uni-versity Press.

Bourdieu, Pierre. (1993) The Field of Cultural Production: Essays on Art and Leissure, New York: Columbia University Press.

Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial. (2016). Pengembangan Desa Sejahtera Mandiri. Jakarta: Kementerian Sosial.

Mutahir, Arizal. (2011). “Intelektual Kolektif Piere Bourdieu”. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Adib , Mohammad. “Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere Bourdieu”. Biokultur Vol. I/No. 2/Juli-Desember. Universitas Airlangga Surabaya: 2012.

Krisdinanto, Nanang. “Pierre Bourdiue, Sang Juru Damai”. Kanal Vol. 2 No.2. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya: 2014.

http://www.tempo.com, Minggu, 20 Desember 2015, diakses Kamis, 02 Oktober 2014 jam 14:25 WIB.

http://www.kompas.com, Minggu, 20 Desember 2015, diakses Kamis, 02 Oktober 2014 jam 14:25 WIB

http://www.tnp2k.go.id, diakses Senin, 21 Desember 2015 jam 14:25 WIB

http://www.kemensos.go.id, diakses Senin, 21 Desember 2015 jam 14:25 WIB

.

http://www.kompasiana.com/abafina/bourdieu-dan-modal-sosial, di akses Senin,

Refbacks

  • There are currently no refbacks.