Gitar Sipoholon (Tradisi Keluarga, Penguatan Ekonomi dan Kesejahteraan Keluarga)

Ririn Purba
DOI: https://doi.org/10.31105/mipks.v44i2.2114
Abstract views: 5 | views : 3

Abstract

Abstrak


Di Indonesia ada satu keluarga yang menjadikan produksi pembuatan gitar sebagai ladang mata pencaharian yang diwariskan secara turun temurun hingga sekarang di jalankan oleh generasi ketiga. Tulisan ini hendak menjelaskan tentang tradisi yang dimiliki oleh keluarga pembuat gitar Sipoholon yang memiliki nama merek dagang “Gitar Bonapasogit”, bagaimana penguatan ekonominya dan kesejahteraan keluarga para pembuat alat musik tersebut. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan observasi, wawancara mendalam dan life history dari pembuat gitar. Hasil yang dicapai adalah misi dari keluarga pembuat sehingga bertahan untuk melanjutkan tradisi dalam mewariskan usaha, cara penguatan ekonomi yang terjadi dan peran pemerintah di dalamnya serta kesejahteraan anggota keluarga melalui usaha pembuatan gitar Sipoholon. Penulis mengutip teori transaksionalisme-Fredrik Barth bahwa setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan berdasarkan resiprositas atau timbal-balik yang mana di sana terselip keinginan akan ada balasan dari yang akan atau telah dilakukan. Kemudian menggunakan pendekatan teori fungsional struktural-Radcliffe Brown, bahwa dalam setiap kegiatan yang dilakukan wirausahawan ada simpul-simpul yang terbentuk di dalamnya dan memiliki fungsi masing-masing dan ketika salah satu simpulnya rusak atau terganggu maka akan mempengaruhi simpul lainnya. Rekomendasi tulisan ditujukan ke pada Badan Ekonomi Kreatif Indonesia agar dapat lebih aktif untuk mempromosikan hasil-hasil dari berbagai ekonomi kreatif yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia dan kepada Kementerian Sosial RI dalam hal ini adalah Ditjen Dayasos agar dapat mengadopsi nilai yang dimiliki keluarga pembuat gitar Sipoholon yakni nilai kekeluargaan dalam mewujudkan kesejahteraan keluarganya dan kesejahteraan orang-orang di sekitarnya yang ikut berperan dalam produksi gitar Sipoholon.

 

Kata kunci: Gitar Sipoholon, tradisi keluarga, budaya, ekonomi, kesejahteraan keluarga

 

Abstract

In Indonesia, there is a family that makes the production of guitar making as a livelihood field that is passed down from generation to generation until now run by the third generation. This paper wants to explain about the traditions of the family of Sipoholon guitar maker which has the trademark "Bonapasogit Guitar", how to strengthen its economy and the welfare of the families of the makers of these instruments. The method used is a qualitative method using observation, in-depth interviews and life history from the guitar maker. The results achieved were the mission of the family of makers so that it survived to continue the tradition of passing down businesses, ways of strengthening the economy that occurred and the role of the government in it and the welfare of family members through the making of Sipoholon guitars. The author cites Fredrik Barth's transactionalism theory that every economic activity carried out is based on reciprocity where there is a desire to be rewarded for what will or has been done. Then using the approach of structural theory-Radcliffe Brown, that in every activity undertaken by entrepreneurs there are nodes that are formed in it and have their respective functions and when one node is damaged or disturbed it will affect other nodes. The written recommendation is addressed to the Indonesian Creative Economy Agency so that it can be more active in promoting the results of various creative economies owned by the Indonesian people and to the Indonesian Ministry of Social Affairs in this case the Directorate General of Social Empowerment in order to adopt the value that belongs to the family of Sipoholon guitar makers, namely the family value in realizing the welfare of his family and the welfare of those around him who take part in the production of Sipoholon guitars.

 

Keywords: Sipoholon guitar, family traditions, culture, economy, family welfare

Keywords

Sipoholon guitar, family traditions, culture, economy, family welfare

Full Text:

PDF

References

Ahimsa- Putra, Heddy Shri. (2003). Ekonomi Moral, Rasional dan Politik. Yogyakarta: Kepel Press.

Creswell, Jhon W. (2002). Research Design Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: KIK Press.

Endang, Rostiana dan Horas Djulius. (2018). Perencanaan dan Pengelolaan Keuangan dalam Mewujudkan Keluarga Sejahtera. Yogyakarta: Diandra Kreatif.

Endraswara, Suwardi. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan: Penelitian Kebudayaan Ideologi, Epistimologi dan Aplikasi. Sleman: Pustaka Widyatama.

Hamid, Sanusi. (2014). Sumber Daya Manusia Lanjuta. Yogyakarta: Deepublish.

Hudayana, Bambang. (1991). Konsep Resiprositas Dalam Antropologi Ekonomi. Jurnal Humaniora No. 3

---------------------------. (2000). Kebudayaan Lokal dan Pemberdayaannya. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 3 Nomor 3

Intruksi Presiden No. 6 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif.

Jonnius. (2013). Menumbuhkembangkan Budaya Kewirausahaan Dalam Masyarakat.. Menara Vol. 12 No. 1

KBBI online diakses tanggal 4 Mei 2020 pukul 10.35 wib.

Koentjaraningrat. (2009). Ilmu Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

---------------------. (2010). Sejarah Teori Antropologi II. Jakarta: UI-Press.

Marzali, Amri. (2014). Struktural-Fungsionalisme. Jurnal Antropologi-UI no. 52

Nuwawea, Jacob. (2004). Sumber Daya Manusia: Peluang Kerja dan Lingkungan Hidup Yogyakarta: Bigraf Pub.

Olaveson, T. (2001). Dialectical Anthropology. Vol. 26 No.2

Pope, W. (1975). Durkheim as a Functionalist. The Sociological Quarterly Vol 16 No.3

Sugiarto, Eko. (2015). Menyusun Proposal Penlitian Kualitatif: Skripsi dan Tesis. Yokyakarta: Suaka Media.

Spreadley. James P. (2006). Metode Etnografi. Yokyakarta: Tiara Wacana.

Suyanto, Bagong dan Sutinah. (2005). Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan. Jakarta: Kencana.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.