Hak Pilih bagi Penyandang Disabilitas Mental Ditinjau dari Perspektif Hak Asasi Manusia

Tony Yuri Rahmanto

Abstract

The political dynamics in Indonesia at the end of 2018 are again warmed up due to the issuance of the Circular Letter of the General Election Commission of the Republic of Indonesia which states that persons with mental disabilities have the right to vote so that they can be recorded as voters. This seems to lead to diverse opinions where in the end the government accommodates the rights of persons with mental disabilities but on the other hand raises concerns for people with mental disabilities whether they can exercise their right to vote properly or not. The purpose of this paper is to provide a comprehensive understanding of persons with mental disabilities, to describe the legal basis for suffrage for persons with mental disabilities and to describe the suffrage rights of persons with mental disabilities viewed from the perspective of human rights. This research is a normative legal research with a qualitative approach that aims to uncover facts and present the existence of circumstances, phenomena, and circumstances that occur based on the study of literature. In this paper describing that persons with mental disabilities actually can still be given the right to vote in general elections because so far there is no prohibition for persons with mental disabilities to obtain their rights. While from a human rights perspective, it is imperative that giving voting rights for persons with disabilities is absolute because persons with mental disabilities are also part of citizens who are given the right by the state to be able to participate in the democratic process procedurally.

Keywords

Suffrage, Persons with Mental Disabilities, Human Rights

Full Text:

PDF

References

Anam, K. (2011). Pendidikan Pancasila Kewarganegaraaan untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Inti Media.

AH, Agusni (2018). Si Sakit Jiwa Bisa Memilih,http://aceh.tribunnews.com/2018/11/26/si-sakit-jiwa-bisa-memilih, diakses 28 November 2018.

Balitbangkumham. (2015). Pemenuhan Hak Atas Kesehatan Bagi Penyandang Skizofrenia. Jakarta.

Biro Humas Kementerian Sosial RI, (2018). Kemensos hadirkan Beragam Layanan dan Program Bagi PenyandangDisabilitas,http://www.depkes.go.id/article/view/18120300003/kemensos-hadirkan-beragam-layanan-dan-program-bagi-penyandang-disabilitas.html, diakses 5 Desember 2018.

Bomantama, Rizal, (2018). Pemilih yang Punya Gangguan Jiwa Hanya Boleh Mencoblos Jika Kantongi Surat Keterangan Dokter, http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/18/pemilih-yang-punya-gangguan-jiwa-hanya-boleh-mencoblos-jika-kantongi-surat-keterangan-dokter?fbclid=IwAR2t5hTxeBmIlWnXhHlSlRvN8GYUfJdxHI91uHrx5-sq7ZmHx4vtOxrNUFI, diakses 28 November 2018.

Chotim, (2018). Pasien Gangguan Jiwa Mulai di Data Untuk Pemilu,http://poskotanews.com/2018/11/12/pasien-gangguan-jiwa-mulai-didata-untuk-pemilu/, diakses 28 November 2018.

Daming. (2011). Marginalisasi Hak Politik Penyandang Disabilitas. Jakarta: Komnas HAM RI.

Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) tahun 1948

Fahmi, K. (2011). Pemilihan Umum dan Kedaulatan Rakyat. Jakarta: Rajawali Press.

Farisa, Fitria Chusna, (2018). KPU: Penyandang Disabilitas Mental yang Didata hanya yang di Rumah atau RSJ,https://nasional.kompas.com/read/2018/11/22/23133931/kpu-penyandang-disabilitas-mental-yang-didata-hanya-yang-di-rumah-atau-rsj, diakses 29 November 2018.

Halalia, M. R. (2017). Pemenuhan Hak Politik Penyandang Disabilitas Sesuai Dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas Oleh Komisi Pemilihan Umum ( KPU ) Kota Yogyakarta. Jurnal Supremasi Hukum, 6(2), 1–24.

Hartanto, M. F. B., & Yulianti, I. (2018). HAM Penyandang Disabilitas Mental di Panti Rehabilitasi Sosial. Jakarta: Komnas HAM RI.

Hukumonline, (2018). Apakah Orang Sakit Jiwa Berhak Memilih dalam Pemilu, https://www.hukumonline.com/index.php/klinik/detail/lt5bf7a73cc679f/apakah-orang-sakit-jiwa-berhak-memilih-dalam-pemilu, diakses 29 November 2019.

Huzaini, Moh. Dani Pratama, (2018). Hak Orang yang Mengalami Gangguan Jiwa dalam Pemilu, https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5bfc445ab3471/hak-orang-yang-mengalami-gangguan-jiwa-dalam-pemilu, diakses 29 November 2018.

International Foundation for Electoral Systems. “UN Convention on the Rights of Persons with Disabilies.”., diakses 28 November 2018.

Ismail, Taufik, (2018). Perludem: Penyandang Disabilitas Mental Harus Difasilitasi Memilih,http://www.tribunnews.com/nasional/2018/11/21/perludem-penyandang-disabilitas-mental-harus-difasilitasi-memilih, diakses 28 November 2018.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, (2018). Peran Keluarga Dukung Kesehatan Jiwa Masyarakat, http://www.depkes.go.id/article/print/16100700005/peran-keluarga-dukung-kesehatan-jiwa-masyarakat.html, diakses 28 November 2018.

Khairazi, F. (2015). Implemetasi Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jurnal Inovatif, VIII(I). Retrieved from JURNAL FAZ

Konvensi Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights, ICCPR

Media Disabilitas, (tanpa tahun). Penyandang Disabilitas Mental, http://mediadisabilitas.org/uraian/ind/disabilitas-mental, diakses 29 November 2018.

Moleong, L. J. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Muhammad, A. (2004). Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: Citra Aditya Bakti.

Murni, R., & Astuti, M. (2015). Rehabilitasi Sosial Bagi Penyandang Disabilitas Mental Melalui Unit Informasi dan Layanan Sosial Rumah Kita. Sosio Informa, 1(03), 278–292.

Nathaniel, Felix, (2018). Alasan Gerindra Tolak Orang Dengan Gangguan Jiwa Dapat Hak Pilih, https://tirto.id/alasan-gerindranbsptolak-orang-dengan-gangguan-jiwa-dapat-hak-pilih-dakz, diakses 28 November 2018.

Nurtcahjo, H. (2006). Filsafat Demokrasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Perdana, Putra Prima, (2018). Dedi Mulyadi: Jangan Bebani Penyandang Disabilitas Mental Untuk Memilih,https://regional.kompas.com/read/2018/11/26/13382371/dedi-mulyadi-jangan-bebani-penyandang-disabilitas-mental-untuk-memilih, diakses 29 November 2018.

Pinterpolitik, (2017). Indonesia Darurat Kesehatan Mental?, https://pinterpolitik.com/indonesia-darurat-kesehatan-mental/, diakses 28 November 2018.

Pratama, Ilham Rian, (2018). Organisasi ini Sampaikan 5 Alasan Penyandang Disabilitas Mental Perlu Gunakan Hak Pilih,http://www.tribunnews.com/nasional/2018/11/24/organisasi-ini-sampaikan-5-alasan-penyandang-disabilitas-mental-perlu-gunakan-hak-pilih, diakses 28 November 2018.

PSHK, (2018), Kerangka Hukum Disabilitas di Indonesia: Menuju Indonesia Ramah Disabilitas, https://pshk.or.id/publikasi/riset/kerangka-hukum-disabilitas-di-indonesia-menuju-indonesia-ramah-disabilitas/, diakses 29 November 2018.

Rahayu, S., Dewi, U., & Ahdiyana, M. (2013). Pelayanan Publik Bidang Transportasi bagi Difabel di Daerah Istimewa Yogyakarta, 10(2), 108–119.

Republik Indonesia.(1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Republik Indonesia.(1999). Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM

Republik Indonesia.(2017). Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum, Jakarta: Kementerian Dalam Negeri.

Republik Indonesia.(2016). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, Jakarta: Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial

Sa’duddin, (2015). Pengaturan Hak Politik Warga Negara, http://www.dakta.com/news/1949/pengaturan-hak-politik-warga-negara, diakses 28 November 2018.

Shaleh, I. (2018). Implementasi Pemenuhan Hak Bagi Penyandang Disabilitas Ketenagakerjaan di Semarang. Kanun Jurnal Ilmu Hukum, 20(1), 63–82.

Sholeh, A. (2015). Islam dan Penyandang Disabilitas: Telaah Hak Aksesibilitas Penyandang Disabilitas dalam Sistem Pendidikan di Indonesia. PALASTREN.

Siallagan, Folber, (2018). 43 Ribu Disabilitas Mental di DPT, https://www.indopos.co.id/read/2018/12/05/157716/43-ribu-disabilitas-mental-di-dpt, diakses 8 Desember 2018.

Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Wignjosoebroto, S. (2013). Hukum Konsep dan Metode. Malang: Setara Press.

Wirosardjono, S. (1995). Dialog Dengan Kekuasaan, Esai-Esai Tentang Agama, Negara dan Rakyat. Bandung: Mizan.

Yin, R. K. (2011). Qualitative Research from Start to Finish. New York: The Guilford Press.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.