KEMISKINAN PERKOTAAN: STRATEGI PEMULUNG DI KOTA AMBON

Main Article Content

Amelia Tahitu
Cornelly M.A. Lawalata

Abstract

AbstractScavengers are part of the urban poor communities that their daily activities in the informal sector by collecting used goods sold for revenue. Scavengers do not require the formal requirements and easy job to do, but full of challenges and risks. Work life scavenger is a challenge that must be done because of poverty conditions and anticipate the household income. In the administration of the city of Ambon has 5 districts namely Ambon Bay Baguala districts, Sirimau, Nusaniwe, Ambon Bay, and South Leitimur. UPTD IPST data from the Office of Ambon in 2016, the number totaled 230 Scavenger scattered in districts Sirimau, Nusaniwe, and South Leitimur. This research was conducted in four districts namely: Sirimau, Nusaniwe, Baguala, and South Leitimur, as scavengers scattered in the districts. Tthe aim of this study was to describe the causes of poverty in poor communities scavengers, identify factors ignorance about household financial management of poor scavengers community, and formulate urban poverty reduction strategies are effective. The method used is quantitative descriptive, WITh data collection techniques; observation, interviews, and questionnaires. Data were analyzed using descriptive methods. The results achieved by the characteristics of the pemulungt sample (scavengers), WITh low income, standard of uninhabitable housing, low health status, education and knowledge is inadequate and results in the inability to manage household finances well. This resulted in them (scavengers) barely have a plan for the future of the family, including the children's education.Keywords: Scavengers, poverty, Ambon. AbstrakPemulung  merupakan bagian dari   komunitas miskin  perkotaan yang aktivitas  kesehariannya  pada sektor  informal dengan melakukan  pengumpulan barang  bekas untuk  dijual demi memperoleh pendapatan.  Pemulung tidak  memerlukan  persyaratan  formal  dan pekerjaannya mudah untuk dilakukan, namun  penuh  tantangan dan  resiko. Pekerjaan  pemulung  merupakan  tantangan  hidup  yang  mesti  dilakukan  karena  kondisi kemiskinan dan mengantisipasi pendapatan rumahtangga. Secara administrasi  Kota Ambon  memiliki 5 kecamatan yakni Kecamatan Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, Teluk Ambon, dan Leitimur Selatan. Dari data Kantor UPTD IPST Ambon tahun 2016, jumlah Pemulung   yang memiliki kartu yang  tersebar  berjumlah  230 pada kecamatan Sirimau, Nusaniwe,  dan Leitimur Selatan.  Penelitian ini dilakukan  pada 4 kecamatan yakni: Sirimau, Nusaniwe,  Baguala, dan Leitimur Selatan,  karena  pemulung  tersebar  pada  kecamatan tersebut.  Tujuan  dari  penelitian ini adalah untuk menggambarkan  faktor  penyebab  kemiskinan  menurut  komunitas miskin pemulung, mengetahui  faktor  ketidaktahuan tentang  manajemen keuangan  rumah tangga komunitas  miskin pemulung, dan  merumuskan  strategi  pengentasan  kemiskinan  perkotaan yang efektif. Metode  yang digunakan adalah  deskriptif kuantitatif,  dengan teknik  pengumpulan  data; observasi, wawancara, dan angket.  Data dianalisis dengan menggunakan  metode  deskriptif.  Hasil yang dicapai berdasarkan  karakteristik pemulung (pemulung), dengan tingkat pendapatan yang rendah, standart rumah tidak layak huni, derajat  kesehatan rendah, pendidikan dan pengetahuan yang minim sehingga mengakibatkan ketidakmampuan dalam mengelola keuangan  rumah tangga dengan  baik. Hal ini mengakibatkan mereka (pemulung) nyaris tidak memiliki perencanaan untuk masa depan keluarga termasuk pendidikan anak-anak.Kata Kunci: Pemulung, kemiskinan, Ambon.

Article Details

How to Cite
Tahitu, A., & Lawalata, C. M. (2017). KEMISKINAN PERKOTAAN: STRATEGI PEMULUNG DI KOTA AMBON. Sosio Informa: Kajian Permasalahan Sosial Dan Usaha Kesejahteraan Sosial, 3(1). https://doi.org/10.33007/inf.v3i1.388
Section
Articles

References

Abidin Achmad, (Tanpa Tahun). Realita, Peran dan Keberadaan Pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Benowo Melalui Video Dokumenter. (Makalah Tugas Akhir), Surabaya: STIKOM. Link online: http://ppta.stikom.edu/upload/upload/file/07510160020makalah%20bidin.pdf (diakses, 20 Agustus 2016).

Badan Pendidikan dan Penelitian Kesejahteraan Sosial (BPPKS), (2012), Analisis Data Kemiskinan Berdasarkan Data Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011, Jakarta: Kementerian Sosial RI bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS).

Badan Pusat Statistik Kota Ambon, (2014). Kota Ambon Dalam Angka 2014. Link online: https://ambonkota.bps.go.id/backend/pdf_publikasi/Kota-Ambon-Dalam-Angka-2014.pdf (diakses, 20 Agustus 2016).

Gunawan, (2012). Strategi Bertahan Hidup Pemulung: Studi di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Ganet Tanjungpinang (Naskah Publikasi). Tanjungpinang: Universitas Maritim Raja Ali Haji. Link online: http://jurnal.umrah.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/JURNAL-GUNAWAN-080569201016-SOSIOLOGI-2013.pdf (diakses: 10 Agustus 2016).

Kamus Bahasa Indonesia Online, (tanpa tahun), Defenisi Pemulung, http://kamusbahasaindonesia.org/pemulung/mirip (diakses, 20 Agustus 2016).

Nuraedah, (2014). Pemulung Yang Termarjinalkan: Studi Sosial Ekonomi Masyarakat Pemulung di Kelurahan Lasoani, Kreatif, Jurnal FKIP Universitas Tadulako, Vol 17, No 3. Link online: http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/Kreatif/article/view/3354/2390. (diakses, 20 Agustus 2016).

Suyanto Bagong, (2013), Anatomi Kemiskinan: Dan Strategi Penanganannya, Malang: Intrans Publishing.

Taufiq Ahmad, et.al, (2010), Upaya Penanggulangan Kemiskinan Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Lokal (Belajar dari Pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak), Politika, Jurnal Ilmu Politik, Volume I Nomor 1, April 2010. Hal. 75-88.

Wikipedia Bahasa Indonesia, (tanpa tahun), Pemulung, https://id.wikipedia.org/wiki/Pemulung (diakses, 20 Agustus 2016).