POLA USAHA TANI PETANI GAMBIR DI NAGARI SIGUNTUR, KABUPATEN PESISIR SELATAN, PROPINSI SUMATERA BARAT

  • Erwin Erwin Universitas Andalas Sumatera Barat

Abstract

Approximately 85% of people working as a farmer villages Siguntur gambier. In general socio-economic conditions of farmers gambier are in very limited circumstances, land area (1 s / d 1.5 acres) and a relatively small capital. Most farmers do harvest 2 or 3 times a year. Average yields ranged from 600 kg
farmer up to 1000 kg. Price gambier in the past 2 years ranged from 18,000, - s / d Rp22.000, - Farmers' income ranged between Rp 1.200.000, - up to Rp 2 million. Efforts to make improvements to the quality of gambier face many obstacles disebabkaan by gambier farmers farming patterns. The purpose of the study to identify patterns gambier farmers farming and strategies undertaken by farmers gambier to increase revenue. The study was conducted in Nagari Siguntur, one of the producers gambier villages in the South Coastal District, West Sumatra province. The data was collected using qualitative techniques; observation, in-depth interviews and focus group discussions. Data were analyzed with pendektan emics and ethics. The
results of this study indicate that the pattern of gambier farmers still farming conventionally and low farmer productivity; farmers' low level of education; gambier production management depends lender, people call
it as toke. These conditions resulted in a family of farmers who are in poverty gambier. On that basis, the
future of farming patterns can be developed that integrate plant gambier with cattle gambier to increase
farmers' income in the future.

Keywords: farming patterns, dry land, community economic empowerment.

Sekitar 85% dari masyarakat nagari Siguntur bekerja sebagai petani gambir. Secara umum kondisi sosial
ekonomi petani gambir berada dalam kondisi yang sangat terbatas, luas lahan (1 s/d 1,5 hektar ) dan modal
usaha relatif kecil. Sebagian besar petani melakukan panen 2 atau 3 kali dalam satu tahun. Rata-rata hasil
panen petani berkisar antara 600 kg sampai 1000 kg . Harga gambir dalam 2 tahun terakhir berkisar
antara Rp18.000,- s/d Rp22.000,- Pendapatan petani berkisar antara Rp 1.200.000,- sampai Rp 2 juta.
Upaya untuk melakukan perbaikan terhadap kualitas gambir mengalami banyak hambatan disebabkaan
oleh pola usaha tani petani gambir. Tujuan penelitian mengidentifikasi pola usaha tani petani gambir dan
strategi yang dilakukan oleh petani gambir untuk meningkatkan pendapatan. Penelitian dilakukan di Nagari
Siguntur, salah satu nagari penghasil gambir di Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kualitatif; observasi, wawancara mendalam
dan diskusi kelompok terfokus. Data dianalisis dengan pendektan emik dan etik. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pola usaha tani petani gambir masih konvensional dan produktivitas petani rendah;
tingkat pendidikan petani rendah; manajemen produksi gambir tergantung pemberi pinjaman, masyarakat
menyebutnya dengan sebutan toke. Kondisi ini yang mengakibatkan keluarga petani gambir berada dalam
kemiskinan. Dengan dasar itu, kedepan dapat dikembangkan pola usaha tani yang mengintegrasikan
tanaman gambir dengan ternak sapi untuk meningkatkan pendapatan petani gambir di masa depan.


Kata kunci: pertanian pola, lahan kering, pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Published
2014-04-22